Indonesia Masuk Peringkat 7 Negara dengan Hutang Terbesar di Dunia

International Debt Statistics (IDS) 2022

International Debt Statistics (IDS) 2022 yang dipublikasikan Bank Dunia pada 11 Oktober 2021, menempatkan Indonesia pada peringkat 7 negara dengan hutang terbesar di dunia.

Berdasarkan laporan Bank Dunia bertajuk International Debt Statistics 2021 Second Edition itu, Pengamat Kebijakan Publik, Aminudin menyatakan hutang Indonesia sudah berbahaya, karena rasio utang Indonesia terhadap penerimaan sudah tembus 369 persen atau jauh di atas rekomendasi International Debt Relief (IDR) yang hanya sebesar 92-176 persen.

“Dan rekomendasi Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar 90-150 persen,” kata Aminudin dikutip Harian Terbit, Rabu (13/10/2021).

Selain itu, rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan telah mencapai 19,06 persen, melampaui rekomendasi IDR sebesar 7-10 persen.

Bacaan Lainnya

Dijelaskannya, berdasarkan pengalaman banyak negara dengan hutang jumbo hingga default atau gagal bayar menderita resesi, depresi bahkan kebangkrutan ekonomi.

“Ada beberapa negara di dunia ini telah memiliki sejarah gagal bayar hutang atau default, yang masih dikenang hingga sekarang sebagai mimpi buruk,” ceritanya.

Berdasarkan data World Finance, Aminudin mengungkapkan, kondisi gagal bayar hutang diduga pertama kali dialami oleh Yunani pada 377 SM. Kemudian, Spanyol gagal bayar utang 6 kali pada 1700-an dan 7 kali pada 1800-an.

Sementara, disebutkan bahwa kondisi gagal bayar utang terparah dalam sejarah sejauh ini dialami oleh Islandia pada 2008.

“Yunani, Italia juga ditahun sekitar 2009 mengalami gagal bayar. Padahal hutang-hutang negara itu masih dibawah Indonesia era pemerintah Jokowi,” paparnya.

Dilain pihak, pengamat ekonomi dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Salamuddin Daeng mengatakan, pada dasarnya  masalah utama Indonesia dalam paparan Bank Dunia tersebut adalah Indonesia hanya mendapat 1 persen hutang dari kumpulan negara penghutang terbesar.

“Ini Indikasi apa? Indonesia sudah tidak lagi mendapat kepercayaan dari lembaga keuangan multilateral untuk mendapatkan pinjaman,” jelasnya.

“Itulah mengapa Indonesia akan masuk dalam jajaran negara yang akan sangat sulit mendapatkan utang dimasa mendatang,” tambahnya.

Salamuddin mengungkapkan, ada beberapa penyebab Indonesia akan masuk dalam jajaran negara yang akan sangat sulit mendapatkan hutang. Pertama, kebijakan pemerintah yang meminta Bank Indonesia membeli surat utang negara di pasar perdana dinilai sebagai kebijakan tabu dan bentuk manipulasi keuangan yang membahayakan.

Kedua, pengelolaan hutang Indonesia yang buruk, termasuk membiayai proyek yang tidak properly atau tidak layak dan tanpa studi kelayakan sehingga mengakibatkan proyek tersebut tidak laku dan mangkrak.

Ketiga, BUMN yang diserahkan tugas membangun infrastrukrur dalam keadaan keuangan yang buruk namun utangnya sangat besar. Misalnya Waskita Karya, Garuda, dan lainnya sehingga rating utang BUMN negatif.

Keempat, ada kemungkinan bahwa elite pemerintahan Indonesia diisi oleh kaum pengusaha, yang memiliki ketertarikan untuk menguasai proyek yang dibiayai APBN. Eliet semacam ini tentu menakutkan bagi investor dari luar.

Kelima, kemungkinan Indonesia gagal bayar hutang telah diketahui investor. Selama ini Indonesia menimbun hutang namun konon ada hutang yang disembunyikan atau yang tidak dilaporkan oleh Kementerian Keuangan.

“Masih banyak faktor lain yang akan membuat pemerintah kesulitan uang dalam membiayai APBN, sampai 2025 mendatang, dikarenakan ketidakmampuan membiayai Covid-19, pajak merosot dan kondisi politik yang makin tidak kondusif akibat pertarungan antar elite parpol dalam kabinet. Jadi investor akan takut kasih hutang disaat negara sedang chaos,” tandasnya.

Pos terkait