Sumpah Pemuda ke-93, Yenny Wahid: Apa ‘Jalan Ninjamu’ Adinda-Adindaku?

Yenny Wahid / Dok. Wahid Foundation

Pada momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda yang ke-93 tahun ini, Yenny Wahid menyampaikan apresiasi atas kiprah anak muda Indonesia di berbagai bidang. Menurutnya, anak muda Indonesia saat ini punya cara dan karakter tersendiri yang jika dikelola dengan tepat mampu menghasilkan pencapaian dan kontribusi positif bagi bangsa dan negara.

“Istilah anak muda sekarang tuh, ini ‘jalan ninjaku’. Pilihan dan bagaimana mereka menjalani hidup itu luar biasa. Ada yang berhasil menjadi penyanyi muda yang go international dengan belajar bahasa Inggris secara otodidak dari youtube, mengunggah lagu-lagunya juga di youtube seperti Rich Brian ya,” kata Yenny dalam keterangannya yang diterima Parlemen.id, Kamis (28/10/2021).

Tak hanya di dunia hiburan, penerima penghargaan Young Global Leader oleh World Economic Forum pada tahun 2009 ini juga mengapresiasi kiprah anak muda Indonesia di sektor kesehatan, teknologi informasi, pertanian, dan lingkungan hidup yang juga mendunia.

“Alhamduillah, banyak juga anak-anak muda kita yang kontribusinya luar biasa lewat perusahaan-perusahaan rintisan, startup yang mereka dirikan. Ada Nusantara Genetics ya, itu perusahaan rintisan pertama yang didirikan anak muda Indonesia yang bergerak di bidang bioteknologi loh. Formulator bioteknologi bidang pertanian pengelolaan lingkungan hidup juga ada (anak muda Indonesia) ya. Namanya kalau ga salah adinda Sulistio. Saya sampai hafal beberapa nama saking kagumnya kepada mereka,” tutur Direktur Wahid Foundation ini.

Bacaan Lainnya

“Ada juga yang saya ikuti terus karena kiprahnya di sektor pertanian yaitu lewat perusahaan rintisan untuk membantu permodalan petani Indonesia lewat sistem permodalan bersama. Belum lagi saat ini kan tidak sedikit perusahaan-perusahaan rintisan yang dimotori oleh anak-anak muda Indonesia yang semakin besar, semakin banyak menyerap tenaga kerja, menciptakan lapangan kerja. Efek dominonya banyak sekali,” imbuhnya.

Yenny sendiri saat ini menjadi komisaris Bukalapak, salah satu perusahaan teknologi Indonesia yang memiliki misi menciptakan perekonomian yang adil untuk semua.

“Saya sendiri di Bukalapak, ya lewat amanah yang diberikan kepada saya, terus mendorong berbagai program pemberdayaan yang mengedepankan inklusivitas. Kenapa? karena ya kemajuan suatu bangsa ada di tangan generasi muda. Kalau generasi muda kita inklusif, menjadikan berbagai perbedaan itu sebagai sebuah kekuatan untuk bersama-sama membangun negeri ya maju ekonomi kita, sejahtera masyarakat kita,” katanya lagi.

Selain itu, Yenny juga saat ini didapuk menjadi Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) periode 2019-2023. Ia berkomitmen penuh memajukan prestasi para atlet olahraga ekstrem yang kini telah diakui sebagai salah satu cabang olahraga di Olimpiade itu.

“Perjuangan memajukan potensi, kualitas, dan prestasi anak muda juga ya lewat olahraga. Kalau tadi anak muda punya ‘jalan ninja’ dengan caranya masing-masing, Alhamdulillah ‘jalan ninjaku’ (saya) juga untuk memajukan prestasi atlet Indonesia lewat cabang olahraga panjat tebing saat ini”, ujarnya.

“Alhamdulillah wa syukurillah, di panjat tebing kita punya Veddric Leoanardo yang baru berusia 24 tahun tapi mampu memecahkan rekor dunia sekaligus meraih emas di Piala Dunia Panjat Tebing 2021 di Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat pada Mei lalu. Dan, masih banyak atlet-atlet panjat tebing lain yang saya yakin dengan disiplin, kegigihan, dan kerja keras untuk latihan Insya Allah bakal mengukir prestasi gemilang di kancah nasional maupun internasional,” katanya.

Oleh karena itu, Yenny pun mengungkapkan kekecewaannya saat salah satu atlet panjat tebing asal Jawa Barat, Raharjati Nursyamsa yang tampil luar biasa dengan mengalahkan catatan waktu Veddriq Leonardo sebagai pemegang rekor dunia pada nomor Speed World Record Perorangan Putra dalam Pekan Olahraga Nasional atau PON Papua di Mimika pada 1 Oktober 2021 lalu tidak bisa diakui oleh Federasi Panjat Tebing Internasional (IFSC). Agar sebuah rekor bisa diakui oleh IFSC, sarana dan perangkat maupun peralatan yang digunakan dalam arena pertandingan sebelumnya harus sudah mendapatkan sertifikasi.

“Kami dari FPTI sendiri tentu sangat mendukung itu (sertifikasi) bisa terlaksana, tapi sayangnya kan di PON kemarin masih belum,” ungkapnya.

Yenny pun berharap semua pihak dapat bersama-sama membangun fondasi dan ekosistem yang kuat agar kaum muda Indonesia mampu memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya.

“Saya percaya, jika kita semua bersatu, bersama bergandengan tangan merawat Indonesia, saya yakin anak-anak muda kita bakal benar-benar menjadi bonus bukan beban demografi pada 2030 mendatang. Indonesia emas pada 2045, tepat satu abad negeri ini tak hanya sekadar impian tapi kenyataan yang Insya Allah bisa kita wujudkan,” kata Direktur Wahid Foundation yang pada tahun lalu dianugerahi oleh TIMES Indonesia sebagai tokoh perekat Nasionalisme dan Keberagaman ini.

“Jadi pada momen 93 tahun Sumpah Pemuda ini, adinda-adindaku, apa ‘jalan ninjamu?’. Yuk, bersama rawat Indonesia,” pungkas putri mantan Presiden RI ini.

Pos terkait