Tiga Potensi Investasi Sektor Pertambangan di Sultra Penuhi Kebutuhan Dunia

Kepala DPM PTSP Sulawesi Tenggara Parinringi saat melakukan kunjungan kerja ke perusahaan pertambangan nikel, PT Citra Silika Mallawa, Kolaka Utara / Dok. DPM PTSP Sultra

KENDARI – Berdasarkan data dari Dinas Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP) Sulawesi Tenggara (Sultra), terdapat tiga potensi investasi sektor pertambangan di Sultra, yakni nikel, aspal, dan emas. Untuk nikel dan aspal, Sultra dapat dikatakan berperan penting dalam penyediaan bahan baku dunia mengingat cadangan yang ada sangat melimpah.

Kepala DPM PTSP, Parinringi menyebut, potensi ini tentunya dapat menarik keran investasi yang positif bagi sektor pertambangan di Sulawesi Tenggara.

Pertambangan Nikel

Indonesia merupakan pemilik harta karun nikel terbesar di dunia. Indonesia di sebut memiliki cadangan nikel sebesar 52 persen dari total cadangan nikel dunia. Hal ini berarti Indonesia memiliki peran strategis dan penting dalam penyediaan bahan baku nikel secara global.

Bacaan Lainnya

Selain wilayah Maluku dan Papua, pulau Sulawesi yang meliputi Sulawesi Tengah dan Tenggara juga merupakan sumber penghasil dan cadangan nikel di Indonesia.

Parinringi menyebut, Potensi nikel di Sulawesi Tenggara diperkirakan luas penyebarannya mencapai 480.032.12 hektar. Dari luas wilayah tersebut ditaksir cadangan deposit hipotetik nikel sebanyak 97.401.593.025.72 ton.

Parinringi mengungkap, wilayah potensi nikel tersebut tersebar di 1 kota dan 6 kabupaten yang ada di Sulawesi Tenggara.

“Wilayahnya itu di Kota Baubau, Kabupaten Buton, Bombana, Kolaka, Kolaka Utara, Konawe Utara, dan Kabupaten Konawe,” terang Parinringi kepada Parlemen.id pada Senin (18/10/2021) lalu.

Ia merinci, luas potensi dan cadangan hipotetik bahan galian nikel di setiap daerah tersebut yakni, Kota Bau-bau dan Kabupaten Buton masing-masing memiliki luas potensi hampir 5 ribu hektar.

Kemudian Kabupaten Konawe Selatan luas potensi sekitar 5 ribu hektar, Kabupaten Bombana luas potensi sekitar 25 ribu hektar.

Lalu Kabupaten Kolaka luas potensi sekitar 58 ribu hektar, Konawe luas potensi sekitar 60 ribu hektar lebih, Kabupaten Kolaka Utara luas potensi sekitar 79 hektar, dan Kabupaten Konawe Utara luas potensi sekitar 81 hektar lebih.

Pertambangan Aspal

Parinringi mengungkapkan, bahwa untuk bahan galian pertambangan aspal tersebar di Pulau Buton, yaitu Kabupaten Buton, Kabupaten Buton Utara dan Kota Baubau.

“Untuk aspal, nilai cadangan potensi pertambangan di kabupaten Buton dan Kota Baubau sebesar 2.394.813.342.120 ton,” ungkap mantan Wakil Bupati Konawe ini.

Dari tahun 1985 -2013 yang belum terolah sebanyak 2.321.227.720.00 ton sedangkan yang sudah berproduksi sebanyak 1.129.394.81 ton.

Dengan potensi dan cadangan yang melimpah, pengembangan aspal di Pulau Buton sendiri juga digaungkan saat Musyawarah Nasional (Munas) VIII Kamar Dagang dan Industri (Kadin) yang digelar di Kota Kendari pada akhir Juni 2021 lalu.

Ketua Kadin Sulawesi Tenggara, Anton Timbang berharap potensi aspal buton tersebut dapat digaungkan secara maksimal sehingga untuk kebutuhan aspal tak perlu lagi mengimpor dari negara lain.

“Makanya saya mengajak ayo investasi ke Buton,” kata Anton Timbang saat Munas Kadin di Kendari Juni 2021 lalu.

Sebelumnya, pada awal 2021 lalu, Gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Mazi juga mendorong semua stakeholder baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun kalangan pengusaha pengembangan aspal untuk memanfaatkan aspal buton secara menyeluruh di tanah air.

Gubernur Ali Mazi menyampaikan hal tersebut saat rapat terbatas dengan sejumlah pejabat dan instansi lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara.

Dorongan untuk memanfaatkan aspal buton ini mengingat rencana implementasi penggunaan aspal buton untuk jalan nasional dan proyek nasioanl di berbagai daerah Indonesia yang digagas Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Kemeko Marves) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Rencana pengembangan aspal buton ini sendiri oleh pemerintah pusat memang terbilang serius. Hal ini ditandai dengan intensitas rapat hingga lima kali pada rentang November sampai Desember 2020. Begitu juga saat masuk pada tahun 2021 keseriusan ini semakin ditingkatkan dengan menghadirkan asosiasi pengembang aspal buton.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara juga bersurat ke Kementerian PUPR pada akhir Desembar 2020 untuk merealisasikan pemanfaatan aspal buton ini.

Jauh sebelumnya, pada pertengahan 2019, Menko Marves, Luhut Binsar Panjaitan mengatakan akan mulai menggunakan aspal yang dihasilkan di Buton, Sulawesi Tenggara sebagai salah satu upaya menghemat impor aspal dari negara lain.

“Saya pikir kenapa tidak? Sehingga secara bertahap impor aspal kita kurangi,” katanya.

Aspal buton sendiri merupakan jenis aspal alami yang hanya dapat ditemukan di dua wilayah di dunia, yakni di Indonesia dan di Trinidad-Tobago, Amerika Tengah.

Pertambangan Emas

Selain, nikel dan aspal, potensi investasi pertambangan di Sultra juga berupa emas. Untuk Sultra, potensi kandungan emas tersebar di lima kabupaten. Kelima kabupaten tersebut, yakni Kolaka Utara, Kolaka, Konawe, Konawe Selatan, dan Bombana.

Ditaksir total cadangan emas yang ada di lima daerah tersebut mencapai 1,1 juta ton. Dari jumlah itu, kandungan terbesar berada di Kabupaten Bombana sebanyak 540 ribu ton.

Terkait berbaik potensi pertambangan ini, pada Oktober 2020 lalu, Gubernur Ali Mazi menawarkan sejumlah potensi investasi di bidang pertambangan, di samping potensi kepariwisataan, perikanan, dan pertanian kepada Kepala BKPM RI, Bahlil Lahadalia.

Untuk memuluskan keran investasi di bidang pertambangan, Gubernur Ali Mazi pun telah meminta koordinasi lebih intensif mengenai pemanfaatannya.

Pos terkait