Tanggapi isu Mogok Kerja, LEM SPSI Bogor: Tidak Relevan dengan yang Diinginkan Kaum Buruh

DPC LEM SPSI Kabupaten Bogor yang menggelar aksi menolak mogok kerja / Ist

BOGOR – Aksi mogok kerja yang bakal dilakukan pada 6-8 Desember 2021 yang diisukan oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal, sebagai upaya untuk merespon keputusan pemerintah yang menaikkan upah minimum tahun 2022 sebesar 1,09 persen.

Sebagaimana diketahui, bahwa kenaikan upah minimum tersebut mengacu kepada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan. KSPI menilai aksi mogok nasional merupakan suatu bentuk kekecewaan buruh kepada pemerintah terkait upah minimum yang hanya naik 1,09 persen.

Ketua DPC Logam Elektronik Mesin (LEM) Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kabupaten Bogor, Sukmayana mengatakan, pihaknya tidak sepakat dengan rencana aksi mogok kerja tersebut. Ia menilai rencana mogok kerja sangat tidak relevan dengan apa yang diinginkan oleh buruh.

“Tentunya rencana aksi mogok kerja tersebut sangat tidak relevan dengan apa yang sebenarnya diinginkan oleh kaum buruh,” kata Sukmayana dalam keterangannya, Rabu (1/12/2021).

Bacaan Lainnya

Menurut Sukmayana, penetapan UMK oleh pemerintah tentunya sudah memperhitungkan kondisi perusahaan selama pandemi, karena tidak semua perusahaan mendapat keuntungan, tetapi banyak juga yang merugi.

“Kalaupun ada perusahaan yang tetap memperoleh profit sebaiknya dilakukan perundingan secara Bipartit tidak dengan mogok kerja,” jelas Sukmayana.

Terakhir, Sukmayana mengajak seluruh elemen buruh khususnya LEM SPSI, agar tetap melakukan aktivitas seperti biasanya.

“LEM SPSI Kabupaten Bogor tetap bekerja melakukan proses produksi pada tanggal 6-8 Desember tersebut,” tutup Sukmayana.

Penulis: Rifky
Editor: aroeL

Pos terkait