Komoditas Unggulan Kabupaten Kolaka, Stimulus Investasi Lintas Sektor

Ketgam: Kunjungan DPMPTSP Kabupaten Kolaka ke DPMPTSP Sulawesi Tenggara dalam rangka koordinasi kebijakan penanaman modal dan strategi promosi potensi daerah/Foto: Aroel
KENDARI – Kabupaten Kolaka terletak di bagian barat Provinsi Sulawesi Tenggara dengan posisi memanjang dari Utara ke Selatan, tepatnya berada pada 3o37’- 4o38’ Lintang Selatan dan 121o05’-121o46’ Bujur Timur.
Kabupaten Kolaka secara geografis berbatasan di sebelah Utara dengan Kabupaten Kolaka Utara, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bombana, sebelah Timur berbatasan Kabupaten Konawe dan Kolaka Timur, sementara sebelah Barat berbatasan dengan Teluk Bone.Sebagian besar wilayah Kolaka merupakan perairan (laut), sekitar ± 15.000 km2 dengan panjang garis pantai 293,45 km. Di wilayah perairan ini terdapat sejumlah pulau-pulau besar: 1) Pulau Padamarang, 2) Pulau Lambasina Besar, 3) Pulau Lambasina Kecil, 4) Pulau Maniang, 5) Pulau Buaya, 6) Pulau Lemo, dan 7) Pulau Pisang. Sedangkan wilayah daratan Kolaka luasnya 3.283,64 km2.
Peta wilayah Kabupaten Kolaka/Foto: Pemkab Kolaka.

Secara administrasi Kabupaten Kolaka pada Tahun 2013 terdiri atas dua belas wilayah Kecamatan, yaitu Watubangga, Tanggetada, Pomalaa, Wundulako, Baula, Kolaka, Latambaga, Wolo, Samaturu, Toari, Polinggona, dan Iwoimendaa. Kecamatan Samaturu adalah kecamatan dengan wilayah terluas yaitu 543,90 km2 atau 16,75% dari total luas Kabupaten Kolaka sedangkan Kecamatan Polinggona merupakan kecamatan dengan wilayah terkecil yaitu 46,65 km2 atau 1,44% dari total luas Kabupaten Kolaka.

Kabupaten Kolaka, merupakan salah satu wilayah administratif Provinsi Sultra yang menjadi gerbang utama atau pintu masuk perjalanan domestik dari wilayah Sulawesi Selatan.

Letaknya yang strategis di arah barat Provinsi Sultra, tak hanya menjadikan Kolaka sebagai satu-satunya pelabuhan yang dilalui rute pelayaran Sulawesi Selatan-Sulawesi Tenggara.

Bumi Mekongga Kolaka, juga menjadi terminal point distribusi barang dan jasa lintas Provinsi. Tak heran Kolaka menjadi salah satu wilayah strategis yang menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi di Sultra.

Bacaan Lainnya

Kabupaten Kolaka terbentuk berdasarkan Undang-undang nomor 29 Tahun 1959.

Letak geografis yang strategis, keindahan bentang alamnya, hingga potensi unggulan lintas sektor, mulai dari sektor perikanan, pariwisata, pertambangan, perkebunan, perindustrian, menjadikan wilayah Kolaka sebagai salah satu wilayah administratif yang berdaya saing, sehingga layak menjadi sentral investasi.

Berdasarkan data capaian realisasi investasi berdasarkan Kabupaten/Kota se-Sultra tahun 2021 Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sultra, Kolaka tercatat berada di urutan ke tiga terbesar

“Realisasi investasinya mencapai Rp1.400 triliun,” kata Kepala DPMPTSP Sultra, Parinringi, dalam keterangannya.

Capaian ini tak lepas dari peran kepemimpinan Bupati Ahmad Safei dan Wakil Bupati Muhammad Jayadin.

Dibawah komando kedua figur ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kolaka secara masif mempersiapkan dan membuka peluang kemitraan strategis bagi pengusaha dan investor lokal, nasional, hingga mancanegara.

Pencapaian wilayah Kabupaten Kolaka tak lepas dari makna doa leluhur 7dibalik penyematan nama ‘Wonua Sorume’, yang berarti ‘Negeri Anggrek’.

Nama Wonua Sorume alias Negeri Anggrek disematkan oleh generasi pendahulu Kolaka, saat itu, wilayah ini ditumbuhi aneka bunga Anggrek kuning emas nan berkilau.

Dalam perjalanan waktu, daerah ini lambat-laun berkembang pesat. Doa dari para leluhur terjawab sudah, wilayah ini tumbuh dengan sejuta potensi ‘bernilai tinggi’ layaknya emas yang berkilau.

Wonua Sorume Kolaka kini layak menjadi lokomotif  pertumbuhan ekonomi di sektor pertambangan, pariwisata, perindustrian, perkebunan, dan perikanan.

Sektor Pertambangan

Potensi mineral dan mineral non logam di Kabupaten Kolaka cukup besar. Di Kecamatan Wolo, Wundulako, Baula, Pomalaa, Tanggetada dan Watubangga, menawarkan potensi pertambangan nikel dengan perkiraan cadangan sekitar 1,3 miliar ton. Sementara di Kecamatan Wundulako sendiri memiliki potensi magnesit dengan perkiraan cadangan sekitar 1,93 juta ton.

Potensi pasir kuarsa sebagai bahan utama pembuatan kaca juga berada di Kecamatan Watubangga, Tanggetada, Pomalaa, Wundulako dan Baula dengan perkiraan deposit sekitar 1,05 juta m3.

Area Pertambangan Nikel PT Antam Tbk di Kabupaten Kolaka /Foto:kolakakab.go.id.

Kecamatan Watubangga menawarkan peluang investasi pengolahan lempung atau tanah liat dan batu gamping atau batu kapur atau “limestone”, dengan cadangan deposit sekitar 4,33 miliar m3.

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Kolaka juga tengah mempersiapkan kawasan strategis untuk pengembangan potensi pertambangan.

“Diantaranya, pertambangan minyak dan gas bumi di laut Kepulauan Padamarang, Kecamatan Wundulako. Rencana Wilayah Kerja Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (WKP Migas) terdiri dari rencana WKP Bone Bay Blok seluas 8.044 km2 yang meliputi Kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara, serta rencana WKP Blok Kolaka Dan Bombana,” kata  Bupati Kolaka, Ahmad Safei.

Sektor Pariwisata

Pemerintah Kabupaten Kolaka tak henti-hentinya merevitalisasi  potensi-potensi pariwisata daerahnya, salah satu diantara beragam destinasi pariwisata unggulannya yakni Taman Wisata Alam (TWA) Mangolo, Kelurahan Mangolo.

TWA Mangolo dimanfaatkan sebagai area hutan lindung dan hutan produksi dengan luas wilyah sekitar 5.000 hektar. TWA Manggolo berada di atas ketinggian  800 meter dari permukan laut.

Secara topografi, wilayah ini didomunasi sungai dengan air terjun yang bersih nan indah. Didalamnya  juga pat ditemui  berbagai macam tumbuhan eksotik, tanaman obat, serta hewan endemik Sulawesi Tenggara yaitu Anoa.

Selanjutnya ada Tanjung Kayu Angin di Desa Sani-Sani, Kecamatan Samaturu, wilayah pesisir yang menjadi destinasi favorit turis domestik. Wilayah ini berhadapan langsung dengan beberapa pulau di Teluk Bone. Eksotisme biru laut, keindahan bibir pantainya memanjakan mata.

Pulau Padamarang di Desa Towua, Kecamatan Wundulako ini kerap disebut seperti sepotong surga di atas awan Teluk Bone, mengingat letaknya yang berada di gugusan pulau di Teluk Bone.

Dari pesawat udara, pulau ini terlihat paling besar, berbentuk bintang laut yang terapit enam pulau kecil lainnya. Pulau ini menyuguhkan spot wisata pantai dan bukit yang seolah masih ‘perawan’, belum tersentuh perkembangan zaman.

Tidak ketinggalan pula Tamborasi, sungai terpendek di dunia yang mengalir sepanjang 20 meter dari hulu ke hilir dengan lebar 15 meter. Tamborasi bermuara di Teluk Bone.

Disebut sebagai sungai terpendek di dunia karena aliran sungainya lebih pendek dari Sungai Kovasselva di Pulau Hitra yang panjangnya 22 meter mulai di hulu dari Danau Kovassvatnet hingga hilir ke Laut Norwegia.

Pendeknya aliran Tamborasi juga mengalahkan aliran Reprua sejauh 27 meter yang berada di negara Georgia.

Danau Biru Kolaka Utara/Foto: Lala
Selain itu, Danau Biru yang terletak di Desa Walasiho, Kecamatan Wawo, Kabupaten Kolaka Utara, juga menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Kolaka.
Destinasi wisata yang memiliki kedalaman 7 meter ini,  dipercaya lahir dari legenda putri raja yang bertapa.
Danau Biru di Kolaka dikelilingi dinding batu yang kokoh. Di sekelilingnya dipenuhi pepohonan, yang semakin menambah keindahannya. di sebeleh gerbang pintu masuknya, terbentang pantai sepanjang 2 km. Tak heran jika di tempat ini kerap  dipenuhi turis domestik di akhir pekan.
Sumber mata air Danau Biru Kolaka dipercaya berasal dari bekas tempat duduk seorang putri raja yang bertapa. Tetapi, di luar apakah itu sekadar legenda atau nyata, keindahan Danau Biru Kolaka patut diacungi jempol empat. Danau Biru Kolaka dikelilingi dinding batu yang kokoh. Bukit dan pepohonan menjadi bagian lain yang mengambil porsi lain mempercantik Danau Biru. Salah satu cara menikmati Danau Biru yang bisa Anda lakukan adalah berenang. Air danaunya payau, tidak asin juga tidak tawar. Suhunya sedikit dingin karena berada di pegunungan dengan warna biru cerah. Kedalaman air danau sekitar tujuh meter.

Sektor Perindustrian dan Perdagangan

Kawasan pengembangan industri di Kabupaten Kolaka meliputi sentra industri besar yang mengolah mineral dan mineral non logam yang terdapat di Kecamatan Wolo, Samaturu, Latambaga, Kolaka dan Pomalaa. Serta sentra pengembangan industri sedang di Kecamatan Kolaka, Pomalaa, dan Kelurahan Mangolo, Kecamatan Latambaga yang akan dibangun menjadi kawasan industri perikanan.

Sementara industri rumahan tersebar di hampir ke seluruh kecamatan, dengan beragam produk mulai dari kerajinan tenun dan batik kain adat mekongga, kerajinan serat alam (nentu), kerajinan anyaman, kerajinan batu alam, penganan dodol coklat, penganan bagea mete, gula semut, madu hutan, minyak telur hingga meubel.

Sektor Perkebunan

Terdapat 18 jenis tanaman perkebunan rakyat di Kabupaten Kolaka, yakni: kelapa, kopi, kapuk, lada, pala, cengkeh, jambu mete, kemiri, kakao, enau/aren, kapas rakyat, kelapa sawit, tembakau, asam jawa, pinang, vanili, sahi dan nilam. Dari komoditas perkebunan tersebut, empat diantaranya dikelola oleh Pemkab Kolaka, dan dipersiapkan secara khusus kawasan perkebunan.

Kawasan perkebunan kakao saat ini memiliki luas tanam mencapai 29.166,76 hektar, tersebar di Kecamatan Wolo, Samaturu, Latambaga, Watubangga, Baula, Tanggetada dan Pomalaa dengan produksi mencapai 8.562,36 ton per tahun. Kakao menjadi salah satu komoditas unggulan, bahkan Pemkab Kolaka tak segan-segan membangun letter sign bertuliskan “Kolaka Cocoa City” di bilangan Pantai Ria.

Melansir Publikasi Statistik Kakao Indonesia 2020 oleh BPS dan Publikasi Outlook Kakao Tahun 2020 yang diterbitkan Kementerian Pertanian (Kementan), secara umum Provinsi Sulawesi Tenggara menjadi daerah penghasil kakao terbesar kedua di Indonesia setelah Provinsi Sulawesi Tengah, dengan nilai produksi sebesar 115.023 ton dengan total luas area lahan perkebunan kakao mencapai 246.296 hektar.

Perkebunan Kakao Kolaka/Dokumentasi: Youtube.

Kawasan perkebunan cengkeh di Kecamatan Latambaga, Kolaka, Wolo, Samaturu, Tanggetada, Baula, Wundulako, Pomalaa dan Watubangga dengan total luas tanam 11.205,30 hektar dan memproduksi sekitar 7.510 ton per tahun.

Saat ini Pemkab Kolaka tengah menjajal kemungkinan kerjasama investasi pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit berskala nasional. Rencananya, pembangunan strategis pabrik sawit tersebut berlokasi di Desa Sopura, Kecamatan Pomalaa.

Hal tersebut dilakukan karena luasan kawasan perkebunan kelapa sawit di Kolaka mencapai 11.205,30 hektar tersebar dari Kecamatan Tanggetada, Polinggona, Watubangga, Samaturu hingga Toari, yang  mampu memproduksi setidaknya 136.597,59 ton kelapa sawit per tahun.

“Terbangunnya kebun kelapa sawit dan pabrik ini tentu akan menimbulkan multiplier effect yang tidak terhingga, bahkan digadang-gadang akan menyerap banyak tenaga kerja lokal, sehingga akan membuka lapangan kerja baru maupun menumbuhkan lapangan usaha baru, seperti kios-kios yang menyediakan bahan makanan, rumah kos, transportasi, dan kebutuhan lain yang berdampak pada masyarakar sekitar,” jelas Bupati Ahmad Safei.

Sementara itu juga sedang dikembangkan kawasan perkebunan lada yang tersebar di Kecamatan Tanggetada, Wolo, Baula, Samaturu, Wundulako, Latambaga, Watubangga, Polinggona, Pomalaa dan Toari. Pengelolaan kawasan perkebunan lada ini diharapkan dapat menjadi potensi ekonomi baru bagi Kabupaten Kolaka di masa depan.

Sektor Perikanan

Kawasan pengembangan perikanan tangkap di Kabupaten Kolaka berada di Kecamatan Watubangga, Tanggetada, Pomalaa, Wundulako, Kolaka, Latambaga, Wolo, Samaturu dan Toari, dengan sasaran produksi mencapai 37.500 ton.

Saat ini produksi perikanan baru mencapai 19.695,9 ton per Tahun. Meski begitu, di masa depan, Bupati Kolaka, Ahmad Syafei, terus mendorong budidaya perikanan, penguatan keterampilan nelayan, untuk mendukung produksi perikanan yang melimpah di masa depan.

Budidaya perikanan sendiri tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Kolaka, meliputi budidaya perikanan laut, karamba, jaring apung, tambak sawah, dan kolam. Potensi wilayahnya mencapai 8.501,5 hektar. Saat ini, pemanfaatan kawasan budaidaya perikanan mencapai  4.684 hektar.

Disisi lain, komoditi rumput laut juga menjadi unggulan Kabupaten Kolaka, dengan potensi produksi sekitar 7.000 hektar. Area yang  dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut saat ini sekitar 1.194,25 hektar.

Dengan mengoptimalkan pengelolaan sumber daya alam dan perlindungan lingkungan hidup, Kabupaten Kolaka terus berbenah akselerasi atau percepatan pembangunan infrastruktur wilayahnya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari upaya stimulus investasi di Kabupaten Kolaka, dan secara luas di Sulawesi Tenggara. (Adv)

Pos terkait