SA Institut: Meski Damai, Mekanisme Pidana Kasus Moge Tabrak Anak Tetap Lanjut

Pakar Hukum Pidana, Suparji Ahmad/inet

Direktur Solusi dan Advokasi Institut (SA Institut), Suparji Ahmad menanggapi kasus moge tabrak dua anak di Pangandaran, Jawa Barat yang menewaskan korban. Keluarga disebut-sebut telah damai dengan penabrak dan menerima kompensasi 50 juta.

Suparji menegaskan bahwa meski sudah berdamai, pihak kepolisian tetap harus mengusut kasus ini. Karena perdamaian tidak menghentikan penyelesian lewat mekanisme pidana karena dua anak tersebut sudah meninggal.

“Dalam hal kecelakaan hingga menyebabkan korban meninggal dunia, langkah damai antara korban dan pelaku memang bisa ditempuh. Namun, upaya damai ini tidak menggugurkan upaya penuntutan pidananya. Artinya polisi masih harus menindak lanjuti,” katanya dalam keterangan persnya.

Suparji menjelaskan bahwa hal ini diatur dalam pasal 235 ayat 1 UU LAJ. Pasal tersebut secara tegas menyebutkan pelaku bisa memberikan kompenasi kepada ahli waris berupa pengobatan atau uang pemakaman dengan tidak menggugurkan upaya penuntutan pidana.

Bacaan Lainnya

Ia berharap, pihak kepolisian perlu melihat persoalan ini lebih komprehensif sehingga bisa melanjutkan perkara tersebut. Jangan sampai ada anggapan di masyarakat bahwa persoalan penghilangan nyawa bisa diselesaikan lewat damai.

“Perkara harus terus dilanjutkan agar tidak terjadi mispersepsi di tengah masyarakat. Penghilangan nyawa merupakan persoalan serius sehingga tidak bisa selesai hanya melalui damai. Berbeda jika korban hanya mengalami luka ringan,” terangnya.

Penghentian perkara pidana menurut Suparji harus selektif yang hanya menimbulkan sedikit kerugian dari korban. Bukan perkara penghilangan nyawa seperti kasus Moge ini.

Jadi, ia menekankan pelaku harus mendapat sanksi pidana atas perbuatannya.

Pos terkait