Pertanian dan Perkebunan Jadi Sektor Andalan di Koltim, DPMPTSP Sultra: Bagian dari Promosi Potensi Investasi 

Gubernur Sulawesi Tenggara, Ali Mazi dan Kepala Badan Karantina Pertanian Badan Karantina, Ali Jamil saat penandatanganan nota kesepahaman pengembangan komoditas pertanian Sultra di Rumah Jabatan Gubernur di Kendari/pertanian.go.id

KENDARI – Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) di 17 kabupaten/kota memiliki beragam potensi yang dapat diandalkan untuk menunjang perekonomian masyarakat. Terlebih lagi untuk sektor pertanian dan perkebunan.

Sektor pertanian dan perkebunan ini pun kerap menjadi sektor yang menjanjikan, mengingat Sultra juga dikenal sebagai daerah agraris.

Tak terkecuali, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kolaka Timur (Koltim) pun masih menjadikan sektor pertanian dan perkebunan sebagai sektor utama dan andalan dalam menunjang perekonomian daerah itu.

“Hingga saat ini, Kolaka Timur masih mengandalkan pertanian dan perkebunan dalam menunjang ekonomi daerah,” kata Pj Bupati Koltim, Sulwal Aboenawas dikutip Sibernas.id, Jumat (7/1/2022).

Bacaan Lainnya

Sulwal mengatakan, sektor pertanian dan perkebunan telah memberikan sumbangsih baik produk domestik regional bruto atau PDRB tahun 2020 yang tercatat mencapai 42,4 persen.

Dan untuk tahun 2022 ini, potensi yang akan di kembangkan dalam menunjang pertumbuhan ekonomi masyarakat masih di fokuskan pada kedua tersebut yakni sektor tersebut.

“Adapun jenis komoditas utama pada sektor tersebut yang menjadi unggulan adalah kakao, padi sawah, nilam  dan tanaman hortikultura lainya serta pasca panen tanaman pertanian dan perkebunan,” katanya.

Khusus untuk pertanian dalam hal ini persawahan kata Sulwan, diharapkan akan lebih meningkat dengan kehadiran Bendungan Ladongi yang dapat mengair ribuan hektar sawah yang ada di kabupaten Kolaka Timur.

“Tentunya kita berharap dengan kehadiran bendungan Ladongi dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat dimana potensi hasil pertanian yang tadinya hanya menghasilkan beberapa beberapa ton dapat menjadi meningkat dua kali lipat,” pungkasnya.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sultra, Parinringi menyebutkan bahwa sektor pertanian dan perkebunan sebagai sektor yang dipromosikan petensi investasinya selain sektor pertambangan, peternakan, perikanan dan kelautan serta pariwisata.

Dikatakannya, salah satu pilar yang juga masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sulawesi Tenggara ini di dalam salah satu program prioritasnya berupa peningkatan kualitas dan produktivitas perkebunan dan pertanian. Dalam hal ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara melakukan fokus dari sektor hulu hingga ke hilir.

“Pilar Sultra Produktif ini lebih mengarah kepada pengembangan dan penguatan aktivitas ekonomi Provinsi Sulawesi Tenggara,” terang Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP) Sultra, Parinringi.

Menurut data DPMPTSP Sultra, investasi komoditas pertanian dan perkebunan di Sulawesi Tenggara sampai pada Triwulan II Juli 2021 mencapai Rp62,53 miliar.

Angka ini merupakan lima besar investasi di Sulawesi Tenggara setelah industri logam dasar, industri mineral non-logam, perumahan-perkantoran, dan transportasi-telekomunikasi.

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia bersama Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi dan Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu Parinringi di Aula Rumah Jabatan Gubernur / Dok. Parlemen.id

Data IQFAST yang dirilis Karantina Pertanian Kendari, pada tahun 2018 terdapat sejumlah produk pertanian Sulawesi Tenggara yang keluar provinsi berupa beras 27,3 ribu ton, kakao 990,6 ton, jahe 65,5 ton, lada 839,2 ton, cengkih 3,04 ribu ton, dan kacang mete 4,5 ribu ton.

Data tersebut menunjukkan sejumlah tanaman pertanian dan perkebunan memang cocok dengan kondisi lahan agraris Sulawesi Tenggara. Selain mete yang menjadi andalan Sulawesi Tenggara, ada pula tanaman kakao, pala, cengkih, padi, jagung, lada, kedelai, kelapa, nilam, kemiri, dan kelapa sawit.

Menurut Kepala Balai Karantina Kendari, Prayitno Ginting, seperti dikutip dari antaranews.com, selama 2020 ada 12 komoditas tanaman perkebunan unggulan Sulawesi Tenggara yang memiliki potensi ekspor atau menembus pasar internasional. Komoditas tersebut, yakni minyak nilam, kelapa bulat, kopra, tepung kelapa, kemiri, cengkeh, kakao biji, biji mete, beras, jagung dan lada biji.

Potensi ekspor untuk 12 komoditas unggulan Sulawesi Tenggara ini pada tahun 2020 totalnya mencapai 183.294 ton. Komoditas jagung menjadi yang terbesar sebanyak 60.320 ton, kemudian berturut beras 31.991 ton, kopra 28.329 ton, mete biji 15.618 ton.

Kemudian lada biji, 4.821 ton, cengkeh 7.707 ton, kakao biji 11.986 ton, kemiri 1.881 ton, kelapa bulat 12.989 ton, tepung kelapa 836 ton, minyak nilam 65 ton dan inti kelapa sawit 6.747 ton.

Namun pada tahun 2020, dari 12 komoditas unggulan itu  hanya empat komoditas yang diekspor yakni kacang mete, biji lada, kakao cair, dan kelapa serabut. Total volume ekspor keempat komoditas ini mencapai 196,1 ton dengan negara tujuan Tiongkok, India, Jerman, Malaysia dan Vietnam.

Akses ekspor secara regional, nasional, maupun internasional kini Sulawesi Tenggara tak perlu lagi melalui pelabuhan di luar provinsi. Sejumlah komoditas unggulan tersebut dapat berangkat ke luar negeri menggunakan Pelabuhan Kendari New Port yang ada di Kelurahan Bungkutoko, Kota Kendari dan dengan begitu biaya akan menjadi lebih efisien.

Gubernur Sultra, Ali Mazi juga berjanji memberikan karpet merah kepada pengusaha lokal yang tertarik berinvestasi di Sulawesi Tenggara.

“Kalau ada putra-putri lokal Sultra yang serius berinvestasi tidak mungkin kita mengutamakan pengusahan luar daerah. Silahkan mengajukan gagasan ke pemerintah daerah, dijamin diprioritaskan,” kata Gubernur Ali Mazi dikutip antaranews.

Pos terkait