Gua Liangkabori, Wisata Sejarah Peradaban Manusia di Pulau Muna

Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara, Belli HT saat berkunjung ke Liang kabori/Ist

MUNA – Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) kaya akan potensi pariwisata. Mulai dari adat, budaya, wisata alam, religi, hingga situs sejarah peradaban manusia.

Salah satu potensi pariwisata yang dimiliki Kabupaten Muna adalah Gua Liangkabori yang merupakan salah satu objek wisata yang menyimpan peninggalan situs pra sejarah.

Situs ini cukup terkenal dikarenakan menyimpan peninggalan ornament-ornament berupa lukisan pada dinding gua, yang dibuat manusia purba pada zaman 4000 tahun yang lalu.

Lokasi gua ini terletak di Desa Liangkobori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Provinsi Sultra.

Bacaan Lainnya

Secara hargia, Liangkobori memiliki arti tersendiri dalam bahasa Muna yakni Liang yang berarti gua dan Kobori berarti tulis. Sehingga, Liangkobori dapat diartikan gua bertulis atau bergambar.

Untuk mengunjungi destinasi ini, Anda bisa menempuhnya dengan dua cara. Pertama, melalui Kapal Laut dari Pelabuhan Nusantara Kendari menuju Pelabuhan Raha pulau Muna, dengan waktu tempuh selama 3 jam.

Kedua, anda dapat memilih penerbangan dari Bandara Halu Oleo Kendari menuju Bandara Sugimanuru di Kabupaten Muna Barat dengan estimasi waktu sekitar 40 menit, dilanjutkan perjalanan darat menuju Desa Liangkobori dengan waktu tempuh 1,5 jam.

Situs Sejarah

Untuk mengunjungi Gua Liangkobori ini, anda akan menjumpai papan nama wisata. Agar bisa mencapai ke situs pra-sejarah Anda perlu memasuki lorong sejauh 2 atau 3 kilo meter, dengan jalanan yang sedikit rusak dan bebatuan.

Perbukitan karst menjuntai tinggi, dikiri dan kanan jalan menuju Gua Liangkobori. Beberapa pondok tani terbangun diujung bukit yang dibawahnya terdapat banyak ladang jagung.

Kawasan situs pra sejarah Liangkobori dilengkapi dengan beberapa gazebo menarik dan replika rumah adat yang dihubungkan oleh jalan setapak.

Gua Liangkobori dan Metanduno adalah gua yang paling sering dikunjungi dari puluhan gua yang ada disini. Selain itu, banyak hal yang seru untuk dinikmati di kawasan gua, tak hanya soal wisata sejarah namun bentangan alamnya yang sangat indah.

Banyak hal yang bisa Anda dapatkan disini, juru kunci atau pemandu wisata dengan senang akan memberikan informasi terkait situs gua liangkabori ini.

Berdasarkan data dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan, terdapat sedikitnya 222 lukisan baik yang utuh, tidak utuh, tidak dapat diidentifikasi atau dikenali pada Gua Liangkobori.

Dari jumlah tersebut, sekitar 130 jenis lukisan menggambarkan aktivitas manusia purba seperti bercocok tanam, beternak, berburu, dan berperang.

Selain itu, ada pula gambar matahari, pohon kelapa, gajah, burung, lipan, kuda, rusa, kura-kura dan jenis lainnya. Selain itu juga ada beberapa lukisan garis tebal vertikal dan horizontal abstrak yang tidak dapat di identifikasi (UI).

Jenis lukisan itu dapat dijumpai mulai dari sisi kiri gua hingga sisi kanan dan di bagian atas mulut gua. Penempatan gambar sebagian besar pada bagian overhang dan pilar gua.

Gua Liangkobori menghadap ke arah barat dengan lebar mulut gua sekitar 30 meter. Ketinggian langit-langit gua sekitar 2-5 meter dengan kedalaman gua mencapai hampir 50 meter. Berdasarkan pemetaan gua, diketahui bahwa luas gua mencapai 354,1 meter persegi.

Gua Liangkobori dikategorikan sebagai gua yang memiliki elemen-elemen seperti pilar, stalaktit, stalagmit, dan lorong. Kondisi permukaan lantai tidak rata dengan bagian paling tinggi sekitar mulut gua dan bagian paling rendah pada area menjelang dinding. Lantai diselingi boulder dan tanah berwarna cokelat gelap yang basah dan lembab.

Beberapa genangan air terlihat membentuk seperti kolam yang paling sering dijumpai sekitar pilar. Air yang tertampung di kolam-kolam alami tersebut menjadi sumber air yang sering digunakan oleh masyarakat yang bermukim di sekitar gua.

Tetesan-tetesan air merembes dibebatuan yang berlumut hijau, tak sedikit pula kelelawar menggelantung di langit-langit gua, bahkan tak jarang menemukan jejak kulit ular.

Liang Kobori saat ini terbuka sebagai tempat pariwisata dan penelitian kepurbakalaan, sehingga sering dikunjungi oleh para pelajar untuk studi lapangan maupun para sejarawan.

Tak hanya itu, terdapat wisatawan mancanegara yang segaja datang untuk melakukan penelitian atau datang untuk berwisata melihat peninggal bersejarah didalamnya.

Ada yang lebih menarik dan telah mendunia dari situs ini, disalah satu tebing ketinggian 30 meter terdapat gua bernama Gua Sugi Patani. Didalam gua ini terdapat lukisan layang-layang purba, yang dalam produk kebudayaan orang Muna dikenal layang-layang kolope, atau dalam bahasa lokal disebut Kaghati Kolope.

Layang-layang ini dibuat berbahan daun umbi hutan yang disebut kolope. Sedang tali untuk menerbangkannya berasal dari serat nenas hutan yang dipilin.

Berdasarkan hasil penelitian lukisan layang-layang di Muna tersebut telah ada sejak periode Mesolitikum, atau sekitar 9.000-9.500 tahun sebelum masehi.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut peneliti asal Jerman bernama Wolfgang Bieck membuktikan bahwa layang-layang pertama di dunia berasal dari Pulau Muna.

Pos terkait